Greta Lee Cerita Ketakutan sebelum Bintangi The Last House

Jakarta, Bochimo Indonesia

Greta Lee

membeberkan berbagai ketakutan hingga tantangan fisik yang harus ia taklukkan demi membintangi film survival thriller terbarunya,

The Last House

.

Dalam wawancaranya di siniar

Skip Intro

, bintang Past Lives tersebut mengaku telah menggemari kisah-kisah perjuangan bertahan hidup sejak kecil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rasa tertarik itu pula yang membuatnya mantap menerima tawaran garapan sutradara Louis Leterrier tersebut, meski harus berhadapan dengan rasa takut mendalam terhadap air dan hiu.

“Saya benar-benar menyukai kisah-kisah seperti itu,” ujar Lee saat menceritakan kegemarannya membaca kisah nyata perjuangan bertahan hidup semasa kecil.

Dalam film tersebut, Greta Lee memerankan Ann, seorang ibu yang terjebak bersama suami (Wagner Moura) dan anak-anaknya di dalam rumah mereka sendiri secara misterius.

Tak sekadar menguji kemampuan mengolah rasa saat keluarganya terisolasi dari dunia luar, proyek ini rupanya menuntut persiapan fisik yang teramat berat.

[Gambas:Video Bochimo]

Demi kebutuhan adegan di dalam air, ia dan jajaran pemeran lainnya harus mengikuti pelatihan penyelaman secara intensif di London School of Diving.

Greta Lee cerita belajar mengontrol napas, menyelaraskan tekanan udara di telinga, hingga menggunakan pemberat ekstra di pakaiannya lantaran tubuhnya yang cenderung mudah mengapung.

“Kami menjelma jadi penyelam. Rasanya saya bahkan sudah punya lisensi menyelam komersial dan bisa menekuni profesi itu kalau mau,” kelakarnya, sembari menegaskan tak berniat beralih profesi.

Greta Lee mengenang momen awal latihan menahan napas yang terasa begitu menguras stamina. Saat merasa sudah bertahan sangat lama di bawah air, instruktur justru memberi tahu bahwa ia baru menahan napas selama dua menit.

Namun, komitmen profesionalisme di depan kamera perlahan mengasah kemampuannya bertahan jauh lebih lama di dalam air.

Proses syuting berhari-hari di dalam air tersebut pada akhirnya membawa dampak besar bagi kehidupan pribadinya. Lee berhasil mengikis trauma dan ketakutan ekstrem terhadap hiu yang telah membayanginya sejak kecil.

“Saya tidak takut lagi sekarang. Saya bisa berada di dalam air selama berjam-jam karena apa yang sudah saya lewati selama pembuatan film ini,” tegas Lee.

The Last House tayang 7 Agustus di Netflix.

(chri)

Baca lagi: Gelombang Panas Terjang Korsel, Suhu Tembus 37 Derajat Celsius

Baca lagi: Rincian Biaya Servis New Suzuki XL7 Hybrid, Ini Totalnya

Baca lagi: DPR Panggil Polda Sumut soal Kematian Mantan Istri Polisi di Medan

8 Responses

  1. Analisis yang sangat cerdas. Di samping aspek-aspek utama di atas, memanfaatkan jejaring komunitas bisa menjadi katalisator yang sangat ampuh untuk mempercepat penyebaran dampak positif dari konsep ini.misteruntung88

  2. Saya mengagumi objektivitas yang diusung dalam tulisan ini. Penulis tidak memihak pada satu sudut pandang ekstrem saja, melainkan memperhitungkan berbagai variabel dan dampak potensial secara adil. Tulisan yang sangat dewasa, matang, dan patut dicontoh. bejo88 link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: