
Jakarta, Bochimo Indonesia
—
Christopher Nolan
pernah bilang dirinya menggunakan pendekatan berbeda saat mengadaptasi kisah epos klasik Odyssey untuk film terbarunya,
The Odyssey
.
Ia ingin cerita ribuan tahun itu bisa terasa segar, dan lebih dekat dengan masyarakat modern. Hasilnya, ia sukses menggapai tujuan tersebut dalam film berdurasi tiga jam kurang dua menit ini.
Mengadaptasi karya sastra Yunani Kuno –dengan bahasa dan nalar yang jauh berbeda dari bahasa komunikasi manusia modern– tentu bukan hal mudah. Belum lagi soal makhluk mitologi, monster, dan segala drama manusia zaman itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Christopher Nolan berhasil melewati tantangan tersebut –sama seperti Odysseus yang kembali ke pelukan Penelope setelah 20 tahun berjuang pulang– tanpa kehilangan kemegahan dan kolosal kisah perjuangan prajurit Yunani Kuno.
Nolan juga membawakan kisah asli Homer yang brutal dengan lebih manusiawi untuk kadar manusia modern. Memang ada banyak bagian yang dibuang, tetapi itu tidak mengurangi inti perjuangan Odysseus kembali bersama yang ia cintai.
Selain itu, keputusan Nolan menulis naskahnya lebih linear dibanding karya-karya sebelumnya juga adalah keputusan ‘manusiawi’. Hal itu membuat kisah ribuan tahun Homer ini jadi lebih mudah untuk dimengerti, selain karena menggunakan bahasa percakapan yang lebih sederhana.
Hanya saja, meski naskah tulisan Nolan jauh lebih manusiawi dan mudah dimengerti dibandingkan kisah aslinya, film ini masih belum mengisi penuh relung emosi seperti ia memuaskan pandangan dan nalar penonton.
Ada sejumlah bagian cerita yang belum berkesan secara emosi,
line
filosofis yang terasa dibuat-buat, hingga sekuens yang gagal membuahkan
an emotional moment to remember
meski sudah dimulai dengan fondasi yang menjanjikan.
Nolan sebenarnya memberikan ruang yang cukup bagi setiap tokoh untuk berkembang sehingga mereka bukan cuma pelengkap penderitaan perjalanan pulang Odysseus. Hampir seluruh karakter memiliki motivasi, konflik, dan emosi yang jelas, membuat setiap keputusan yang mereka ambil terasa penting bagi jalannya cerita.
Anne Hathaway yang memerankan Penelope adalah contoh yang paling sukses dalam memanfaatkan ruang itu. Aktris peraih Oscar ini mengeksekusi frustrasi, kerinduan, keyakinan, dan keteguhan istri yang ditinggal suami puluhan tahun dengan sempurna.
Tanpa banyak dialog yang berlebihan, Hathaway mampu menyampaikan emosi Penelope melalui ekspresi yang subtil tapi membekas.
Anne Hathaway dan Matt Damon juga berhasil membangun chemistry sebagai pasangan suami-istri yang hangat dan saling mencintai hingga benar-benar terlihat dunia milik berdua, tapi kemudian malah berpisah untuk waktu lama.
Hanya saja, kerinduan dan frustrasi segunung seorang istri justru dibayar Nolan dengan percakapan yang jauh dari kata romantis dan menyentuh. Bahkan line Odysseus saat menyamar kepada anaknya, Telemachus, terasa lebih ada bobot emosinya dibanding dengan Penelope.
Padahal Matt Damon yang sudah tampil solid sebagai prajurit Yunani Kuno
green flag
sejak awal. Bahkan ia juga tak ditempatkan pada posisi yang megah di pertarungan pamungkas. Nolan terasa kebablasan memanusiakan karakter pejuang yang masih keturunan dewa itu.
Padahal, adegan puncak melawan puluhan orang itu adalah kesempatan yang tepat untuk menunjukkan keperkasaan Odysseus, sekaligus jadi tantangan terakhir atas ambisinya untuk pulang kembali ke keluarga. Dalam hal ini, Nolan seolah lupa bahwa selemah-lemahnya manusia, ia bisa menjadi ‘dewa’ ataupun ‘iblis’ bila harus berjuang untuk hal yang amat ia cintai.
Selain Anne Hathaway, Tom Holland juga sukses tampil membawakan Telemachus. Bisa dibilang, Holland paling cocok dengan karakter anak seorang penguasa yang terpaksa tumbuh
fatherless
dan harus membuktikan dirinya ‘
worth enough
‘ untuk menggantikan sosok ayahnya.
Holland bisa membawakan kesan hangat dan polos yang membuat posisi Telemachus terasa lebih alami sebagai
nepo baby.
Terutama interaksinya dengan Hathaway yang seolah-olah mereka berdua adalah ibu dan anak sungguhan.
Robert Pattinson juga aktor yang sukses memanfaatkan ruang pengembangan karakter dari Nolan. Sebagai Antinous, Pattinson mulus menjadi sosok antagonis sekaligus berkarisma dan intimidatif tanpa harus berakting berlebihan.
Sedikit catatan mungkin adalah untuk Zendaya sebagai Athena. Nolan agaknya ingin memberikan jembatan logis terkait luka batin masa lalu Odysseus lewat karakter ‘pembisik’ prajurit tersebut. Sayangnya, itu justru menimbulkan pertanyaan baru akan identitas sejati dari Athena, terlepas dari kepercayaan Nolan akan keberadaan dewa-dewi seperti pada naskah asli Homer.
Christopher Nolan yang selama ini dikenal dengan imajinasi ‘logis’ juga membuktikan memiliki fantasi liar dalam menggambarkan Circe, berbagai monster, hingga momen thrilling yang menyebar di sepanjang film.
Tak perlu diragukan keahlian teknis yang diboyong Nolan dalam The Odyssey. Nolan masih mempertahankan kemahirannya dalam menyajikan pengalaman sinematik dalam layar lebar, yang sekaligus menjaga reputasinya sebagai sutradara dengan jaminan film ciamik.
Meski terasa tak adil karena film ini menggunakan kamera IMAX 70 mm yang mana gambarnya baru muncul secara utuh hanya di 40 lokasi di dunia –dan tentu saja bukan di Indonesia–, The Odyssey masih bisa dirasakan kemegahannya.
Tim desain produksi, tim efek, tim kostum, tim tata rias, Ludwig Göransson yang bertindak sebagai konduktor musik, termasuk Hoyte van Hoytema yang memegang di balik kamera, semuanya sukses mewujudkan visi naskah Christopher Nolan. Bahkan kemegahan dan kolosalnya The Odyssey mengingatkan akan Cleopatra (1963) yang produksinya hampir bikin studio Hollywood bangkrut.
Kesetiaan Nolan dalam efek praktis yang diwujudkan dalam film ini adalah nilai tambah. Banyak adegan terasa memiliki bobot fisik yang nyata karena mengandalkan lokasi sungguhan, pencahayaan alami, serta penggunaan efek praktis alih-alih bergantung pada CGI. Hasilnya, dunia The Odyssey terasa lebih hidup dan membumi, meski dipenuhi unsur mitologi.
Dengan segala sajian tersebut, The Odyssey dari Christopher Nolan menjadi bukti baru bahwa kisah dari peradaban di masa lalu masih bisa disajikan dengan cara modern dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat kiwari, meski ceritanya sederhana soal orang yang cuma kepingin pulang.
Hanya saja yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah apakah hanya Christopher Nolan yang mampu membawakan kemegahan sekaligus tragedi epos masa lalu, ataukah akan ada Nolan-Nolan berikutnya yang bisa menyajikan hal yang menyamai atau bahkan lebih baik?
[Gambas:Youtube]
(end)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Bochimo]
Baca lagi: Lightsaber Asli Luke Skywalker dari Star Wars Episode V Terjual Rp64 M
Baca lagi: Cerita Winter aespa 3 Kali Ditolak SM Entertainment
Baca lagi: Pria Diduga Bos Perusahaan Ditemukan Tewas di Hotel Jaksel



16 Responses
wijaya88 tempat main slot gacor terpercaya akses langsung wijaya88 login sekarang
Penjelasannya asik dan gampang dicerna. Kalau ada yang lagi nyari bahan perbandingan atau insight lain soal topik ini, link https://bmoreart.com/2015/10/we-made-a-magazine.html ini juga sangat direkomendasikan.
Artikel ini menjawab banyak pertanyaan yang selama ini saya cari. Sekadar nambahin referensi, coba deh cek juga tautan https://organicore-cbd-gummies-usa-2023.company.site/SAMPLE-Yellow-Fluffy-Sweater-p559252579 ini.
Sebuah ulasan yang sangat kuat tentang ketahanan emosi. Banyak kiat praktis di sini yang mengajarkan cara merespons kejadian buruk harian dengan kepala dingin dan bijaksana. https://secure2.websrvcs.com/system/media/play.asp?id=30216&key=06C2CA18-3E83-4BD3-A2A8-67B0740160FE
Sebuah bacaan yang sangat menenangkan emosi. Pembaca dibekali ilmu untuk mengelola ekspektasi dan tetap menjaga kedamaian pikiran dalam aktivitas sehari-hari. https://secure2.websrvcs.com/System/Media/Play.asp?id=30216&key=A652EC85-F896-4FDA-A4B0-319413DB8849
Artikelnya ngebantu banget nih buat nambah wawasan, bahasannya rapi dan gampang dimengerti. Buat pelengkap materi, coba deh intip bahasan menarik di https://www.hercampus.com/school/arizona/spring-break-essentials/
Penjelasannya sangat terstruktur dan alur pembahasannya gampang banget dipahami buat orang awam. Mantap abis min! Bagi yang butuh referensi bacaan tambahan, silakan kunjungi https://theoldreader.com/profile/5143206a54cf82f0ef0001bf?page=168
Informasi yang sangat berbobot dan membuka sudut pandang baru bagi pembaca. Makasih min! Bagi yang mau memperdalam wawasan sejenis, silakan kunjungi juga tautan https://apnews.com/press-release/kisspr/lifestyle-business-marketing-and-advertising-nutrition-corporate-news-b0e627471fa9635754b16412a374659a
Artikel yang sangat mengedukasi dan membantu banget buat nambah wawasan hari ini. Sukses terus min. Sebagai pelengkap informasi, teman-teman bisa coba cek ulasan menarik di https://lauriteresita.pages.dev/zmnwdqu-grey-day-merch-2025-photos-bsgpejv/
Ulasan komprehensif yang menjawab pertanyaan saya belakangan ini. Mantap abis admin! Sebagai pembanding data dari sumber lain, ada ringkasan materi serupa di http://areciboweb.50megs.com/fotw/flags/us_u_tuf.html
Akhirnya nemu juga tulisan yang mengupas tuntas materi ini dengan bahasa yang santai. Makasih min. Info pelengkap yang searah bisa dicek juga lewat tautan http://ojs.ufro.cl/index.php/indoamericana/comment/view/579/514/224406
Bagus banget artikelnya min, bener-bener ngebuka sudut pandang baru hari ini. Sukses terus ya! Sebagai tambahan bahan bacaan pendukung yang relevan, temen-temen bisa coba intip link https://www.broadwayworld.com/bwwtv/article/Daryl-Hall-Web-Series-LIVE-FROM-DARYLS-HOUSE-Coming-to-RFD-TV-33-20130227
Penjelasan yang luar biasa rapi. Sangat cocok buat dijadikan referensi tambahan. Sekadar info, materi serupa yang dibahas dengan menarik juga bisa dilihat di https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320521686_htm
Akhirnya nemu juga tulisan yang mengupas tuntas materi ini dengan bahasa yang santai. Makasih min. Info pelengkap yang searah bisa dicek juga lewat tautan https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297209616_htm
Artikel ini mengajarkan kita bahwa pengaruh terbesar dibangun dari konsistensi kebaikan harian. Poin-poin ilmunya sangat kaya akan nilai-nilai keteladanan yang riil.https://www.ivoox.com/blue-vibe-cbd-gummies-reviews-amazon-near-audios-mp3_rf_115717962_1.html
Akhirnya nemu juga tulisan yang mengupas tuntas materi ini dengan bahasa yang santai. Makasih min. Info pelengkap yang searah bisa dicek juga lewat tautan https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320283135_htm