Zhang Xiaofei Digosipkan Tak Ambil Bayaran Main Kung Fu Soccer

Jakarta, Bochimo Indonesia

Zhang Xiaofei

dikabarkan tak mengambil bayaran saat menjadi bintang utama

Kung Fu Soccer

, film terbaru garapan sutradara Stephen Chow.

Terdapat berbagai versi soal rumor tersebut bahkan setelah Kung Fu Soccer rilis dan langsung mencetak rekor box office di China, salah satunya adalah Zhang Xiaofei disebut sukarela menolak bayaran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti dilaporkan via

Sina

pada Kamis (23/7), Zhang Xiaofei dikabarkan rela tampil cuma-cuma demi menggapai mimpinya berkolaborasi dengan Stephen Chow.

Ia juga dikabarkan rela membayar denda penalti 2 juta yuan atau setara Rp5,29 miliar (1 RMB=Rp2.647,78) demi membatalkan seluruh jadwal kerjanya selama setahun.

Sementara itu, beredar pula rumor Zhang Xiaofei bukan tampil secara cuma-cuma, melainkan melepas honor tetap untuk beralih ke sistem bagi hasil (revenue-sharing) dari pendapatan box office.

Skema tersebut sesungguhnya berisiko, tapi juga berpotensi menghasilkan pendapatan jauh lebih besar jika target penjualan tiket tercapai.

[Gambas:Video Bochimo]

Tak berhenti di situ, terdapat pula pemberitaan bahwa berdasarkan sumber dalam industri istilah “tanpa bayaran” tersebut hanya taktik pemasaran untuk menyiasati aturan pembatasan gaji artis, di mana kompensasi sebenarnya tetap diberikan melalui jalur lain.

Meski rumor tersebut sudah beredar kencang dalam beberapa waktu terakhir, Zhang Xiaofei, Stephen Chow, dan rumah produksi Kung Fu Soccer belum buka suara merespons itu. Tak ada pula salinan kontrak resmi yang mengonfirmasinya.

Terlepas dari dinamika klausul kontrak tersebut, Stephen Chow memiliki alasan kuat dalam memilih Zhang Xiaofei untuk melakoni karakter Shuangshuang.

Sang sutradara menilai Zhang Xiaofei sebagai sosok yang “memiliki kualitas akting, kedalaman emosi, pemahaman komedi yang matang, serta tidak mudah berpuas diri,” hingga menganggap karakter Shuang Shuang ditulis khusus untuknya.

Ia juga berpendapat karakter itu sesuai lantaran kemampuan Zhang Xiaofei mengeksekusi sosok rakyat kecil berhati lembut di balik penampilan luar yang tangguh.

Demi mendalami peran sebagai kapten tim sepak bola wanita, Zhang Xiaofei rela memotong pendek rambutnya, serta menjalani pelatihan intensif sepak bola selama enam bulan demi mengeksekusi adegan-adegan sulit secara langsung.

Kesungguhan itu ditunjukkannya sejak proses audisi ketika ia menjadi satu-satunya aktris yang secara terbuka mengajukan skema tanpa bayaran dan membungkuk di hadapan tim produksi.

Sikap tersebut diberitakan langsung membuat Stephen Chow pasang badan membela kehadirannya di tengah penolakan jajaran investor.

Dalam Kung Fu Soccer, Zhang Xiaofei berperan sebagai Shuang Shuang, kapten, sekaligus pelatih de facto, dan pemain kunci tim sepak bola putri Emei yang mengintegrasikan teknik bela diri ke dalam permainan mereka.

Kung Fu Soccer tayang di China sejak 11 Juli, sedangkan di bioskop Indonesia pada 12 Agustus.

[Gambas:Youtube]

(chri)

Add

as a preferred

source on Google

Baca lagi: Sinopsis Lake Placid 3, Bioskop Trans TV 23 Juli 2026

Baca lagi: Hari Anak Nasional, 1.050 Anak Binaan Terima Pengurangan Masa Pidana

Baca lagi: 2.300 Pemukim Israel Serbu Kompleks Al Aqsa, Gelar Ritual Yahudi

6 Responses

  1. Bahasannya sangat berbobot dan terstruktur dengan baik dari awal sampai akhir. Sukses terus untuk blognya! Kebetulan kemarin sempat baca ulasan sejenis yang detail di https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297324930_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320526612_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296953309_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320130534_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320691328_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297001218_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297411040_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297520522_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297169629_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320653527_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320530187_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320010328_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320577507_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320369117_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320515854_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297614256_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297032736_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320242852_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297179729_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297198279_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2319992298_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297013477_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320558282_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320702929_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320602614_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320043211_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320504381_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297428940_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320537256_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296951806_htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: